• JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator
  • JoomlaWorks Simple Image Rotator

Teungku Muhammad Hasbi ash Shiddiqi (1904-1975)

PDFCetakE-mail



Pelajar dan Pembaharu

Muhammad Hasbi lahir di Lhok Seumawe, Aceh pada tanggal 10 Maret 1904. Al Hajj Teungku Qadhi Chik Maharaja Mangkubumi Husein ibn Muhammad Mas‘ud dan  Teungku Amrah adalah nama orang tuanya. Ayahnya seorang ulama terkenal yang memiliki sebuah dayah (pesantren) sementara ibunya adalah puteri Teungku Abdul Aziz, pemangku jabatan Qadhi Chik Maharaja Mangkubumi Kesultanan Aceh waktu itu. Ia merupakan keturunan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang ketiga puluh tujuh. Oleh sebab itu gelar Ash-Shiddiq dijadikan nama keluarganya. Ketika berusia 6 tahun, ibunya meningggal dunia. Sejak itu ia diasuh oleh bibinya, Teungku Syamsiah.

Sejak kecil Hasbi belajar agama Islam di dayah milik ayahnya. Kemudian pada usia delapan tahun ia sudah pergi belajar dari satu dayah ke dayah lainnya. Mulanya ia pergi ke dayah Teungku Chik di Piyeung untuk belajar Bahasa Arab. Setahun kemudian ia pindah ke dayah Teungku Chik di Bluk Bayu. Pada tahun 1916 ia kembali pindah ke dayah  Teungku Chik Idris. Di salah satu dayah terbesar di Aceh ini Hasbi khusus belajar fiqih. Dua tahun kemudian ia pindah ke dayah Teungku Chik Hasan Krueng Kale untuk memperdalam ilmu hadits dan fiqih. Setelah dua tahun belajar di dayah ini, Hasbi mendapatkan syahadah (ijazah) sebagai tanda ilmunya telah cukup dan berhak membuka dayah sendiri. Disamping gemar belajar, Hasbi juga gemar membaca, oleh karena itulah kemampuan otodidaknya sangat bagus.

Sekembalinya dari merantau, Hasbi kemudian menjadi anak didik Syaikh al-Kalali. Dari tokoh pembaharu asal Singapura yang kemudian menetap di Aceh ini lah ia mendapat kesempatan untuk membaca kitab-kitab para ulama seperti Fatawa Ibnu Taimiyah, Zâdul Ma’âd Ibnu Qayyim dan ‘Ilamul Muwaqi’in.

Melihat gairah dan kemampuan Hasbi itu, Syaikh al-Kalali kemudian mengirimnya ke Surabaya untuk belajar kepada Syaikh Ahmad as-Surkati. Setelah dites ia ditempatkan di kelas takhasus. Selama satu setengah tahun belajar di al-Irsyad, yang paling banyak dipelajari Hasbi adalah kemahiran berbahasa arab dan pengalaman menyaksikan kiprah kaum pembaharu di Jawa yang bergerak secara terorganisir. Akhirnya Syaikh as-Surkati dengan al-Irsyadnya telah memantapkan sikap Hasbi  untuk bergabung dengan kelompok pembaharu. Berbeda dengan kebanyakan tokoh pembaharu lainnya di Indonesia, ia telah mengeluarkan suara pembaharuan sebelum naik haji atau belajar di Timur Tengah. Kemudian Ia mulai menyuarakan pembaharuannya di Aceh, masyarakat yang dikenal fanatik. Namun ia tidak gentar dan surut kendatipun karena itu ia dimusuhi, ditawan dan diasingkan oleh pihak yang tidak sepaham dengannya.

Sikap pembaharuan Hasbi tercermin dalam pemikiran-pemikirannya. Dalam berpendapat ia merasa bebas, tidak terikat dengan pendapat kelompoknya. Ia berpolemik dengan orang-orang Muhammadiyah dan Persis, padahal ia juga anggota dari kedua perserikatan itu. Ia bahkan berani berbeda pendapat dengan jumhur ulama, sesuatu yang langka terjadi di Indonesia

Pada tahun 1933 Hasbi pindah ke Kutaraja (Banda Aceh). Kepindahannya ke ibukota karesidenan ini membuka peluang bagi Hasbi untuk lebih banyak bergerak. Kemudian ia bergabung dengan organisasi Nadil Ishlahil Islami (Kelompok Pembaruan Islam). Dalam rapat umum organisasi tahun 1933, Hasbi ditunjuk sebagai wakil redaktur Soeara Atjeh, salah satu organ dari Nadil Ishlahil Islami.

Hasbi juga mendaftarkan diri sebagai anggota Muhamadiyyah. Ia pernah menjadi ketua cabang Muhamadiyah Kutaraja dan ketua Majelis Wilayah Muhamadiyyah Aceh.

Di awal kemerdekaan Hasbi ditangkap dan dipenjara oleh Gerakan Revolusi Sosial di Lembah Burnitelong dan Takengon selama satu tahun lebih. Apa yang menjadi sebab semua ini tidak begitu jelas, karena Hasbi sendiri tidak pernah diinterogasi maupun diadili. Tapi ada kemungkinan karena sikap pembaharuannya. Selama di dalam tahanan Hasbi berhasil menyelesaikan tulisan naskah buku al-Islam setebal 1.404 halaman dalam dua jilid. Buku ini kemudian diterbitkan untuk pertama kalinya pada tahun 1951. Sampai tahun 1982 saja buku ini telah mengalami tujuh kali cetak ulang.

Hasbi baru dibebaskan dari penjara setelah ada desakan dari Pimpinan Muhamadiyyah dan surat dari Wakil Presiden Mohammad Hatta. Tetapi ia masih berstatus tahanan kota. Setelah dibebaskan ia pulang ke Lhok Seumawe dan menjadi Kepala Sekolah Menengah Islam di sana. Status tahanan kotanya kemudian dicabut pada tanggal 28 Februari 1948.

Pendidik Hebat

Setahun kemudian Hasbi bersama Ali Balwi berangkat ke Yogyakarta untuk menghadiri Kongres Muslim Indonesia (KMI) ke XV mewakili Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA). Dalam kongres itu Hasbi menyampaikan prasaran yang berjudul ”Pedoman Perjuangan Ummat Islam  mengenai Soal Kenegaraan”. Ia juga dikenalkan oleh Abu Bakar Atjeh, ulama asal Aceh, kepada Kiai Wahid Hasyim, Mentri Agama saat itu, dan Kiai Fatchurrahman Kafrawi, ketua Panitia Pendirian PTAIN (cikal bakal IAIN/UIN).

Perkenalannya dengan Kiai Fatchurrahman Kafrawi membawanya kembali ke Yogyakarta dua tahun kemudian, kali ini untuk menetap, karena ia ditawari mengajar di Sekolah Persiapan PTAIN.

Karena kepakarannya dalam ilmu hadits, tahun 1960, ia diangkat sebagai Guru Besar dalam bidang ilmu Hadis. Sejak itu ia juga diangkat sebagai dekan di Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta  hingga tahun 1972. Ia juga diangkat sebagai dekan fakultas Syari’ah IAIN Banda Aceh.

Atas jasa-jasanya dalam dunia pendidikan, Teungku Hasbi ash-Shiddieqy telah dianugerahi beberapa penghargaan, di antaranya adalah Anugerah Doctor Honoris Causa dari Universitas Islam Bandung (UNISBA) pada tahun 1975 dan Anugerah Doctor Honoris Causa dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jogjakarta tahun 1975.

Aktif Berpolitik dan Produktif Menulis

Semenjak di Aceh Hasbi sudah aktif di Masyumi. Dalam pemilihan umum tahun 1955 Hasbi terpilih sebagai anggota konstituante dari partainya. Ia kemudian ditempatkan di Panitia Persiapan Konstitusi (PPK). Sebagai anggota konstituante, pada tahun 1957 Hasbi berangkat ke Pakistan untuk menghadiri International Islamic Colloquium yang diselenggarakan oleh University of Punjab. Dalam acara ini Hasbi menyampaikan makalah dalam bahasa Arab dengan judul ”Sikap Islam terhadap Ilmu Pengetahuan”.

Semasa hidupnya, Hasbi ash-Shiddieqy aktif menulis dalam berbagai disiplin ilmu, khususnya ilmu-ilmu keislaman. Menurut catatan, karya tulis yang telah dihasilkannya berjumlah 73 judul buku, terdiri dari 142 jilid, dan 50 artikel. Sebagian besar karyanya adalah buku-buku fiqh yang berjumlah 36 judul. Sementara bidang-bidang lainnya, seperti hadis berjumlah 8 judul, tafsir 6 judul, dan tauhid 5 judul, selebihnya adalah tema-tema yang bersifat umum. Karya terakhirnya adalah Pedoman Haji, yang ia tulis beberapa waktu sebelum meninggal dunia.

Karya Hasbi paling fenomenal adalah Tafsir an-Nur. Sebuah tafsir al-Qur`an 30 juz dalam bahasa Indonesia. Karya ini fenomenal karena tidak banyak ulama Indonesia yang mampu menghasilkan karya tafsir semacam itu.

09 Desember 1975, Hasbi mengikuti karantina guna menunaikan Ibadah haji, namun Allah swt. menakdirkan memanggilnya dalam usia 71 tahun. Ia kemudian dimakamkan di pemakaman keluarga IAIN Ciputat, Jakarta. Buya HAMKA dan Mr. Mohammad Roem turut memberi sambutan pada acara pelepasan dan pemakamannya.


Beberapa karya Hasbi ash-Shiddieqy:

1. Koleksi Hadis-hadis Hukum, 9 Jilid .

2. Mutiara Hadis 1 (Keimanan).

3. Mutiara Hadis 2 (Thaharah & Shalat).

4. Mutiara Hadis 3 (Shalat).

5. Mutiara Hadis 4 (Jenazah, Zakat, Puasa, Iktikaf & Haji).

6. Mutiara Hadis 5 (Nikah & Hukum Keluarga, Perbudakan, Jual Beli, Nazar & Sumpah, Pidana & Peradilan, Jihad).

7. Sejarah dan Pengantar Ilmu Alquran dan Tafsir Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy.

8. Islam dan HAM (Hak Asasi Manusia): Dokumenter Politik Pokok-pokok Pikiran Partai Islam dalam Sidang Konsituante 4 Februari 1958.

9. Sejarah Pengantar Ilmu Hadis.

10. Sejarah dan Pengantar Ilmu Tafsir.

11. Kriteria Antara Sunnah dan Bid‘ah.

12. Tafsir Alquran al-Madjied-An-Nur.

13. Pedoman Haji, (Cetakan ke-9, Edisi ke-2).

Pemikiran T.M Hasbi dalam Bidang Hadis dan Ulumnya
Pemikiran T.M Hasbi Tentang Sunnah
Umat Islam sepakat bahwasanya Sunnah adalah sumber hukum kedua setelah al-Qur’an yang merupakan bentuk perkataan, perbuatan dan atau pun Taqrir yang disandarkan kepada Rasulullah SAW baik yan bersifat Aqidah, Syariat, Muammalah maupun akhlaq. Para ulama telah memberikan perhatian yang sangat besar terhadap pengkajian, penelitian dan penyeleksian terhadap hadis-hadis Nabi SAW yang bertujuan untuk membedakannya dari perkataan, perbuatan dan taqrir yang disandarkan kepada selain beliau.
Kata sunnah berdasarkan defenisi leksikalnya adalah thariqah dan sirah yang berarti jalan atau metodologi. Sementara menurut etimologinya, maka akan ditemukan perbedaan defenisi antara Muhadditsin, Ushuliyyin dan Fuqaha.
Adapun Sunnah menurut Muhaddisin adalah segala apa yang berasal dari Nabi SAW baik dalam bentuk perkataan, perbuatan, persetujuan ( taqrir ), sifat, atau sejarah hidup . Pendefinisian Muhaddisin ini tidak memiliki perbedaan dengan pendefinisian mereka terhadap kata Hadits. Namun dengan demikian Ibnu Taimiyyah meberikan perbedaan anatar defenisi Sunnah dengan Hadis dari sudut pandang defenisi etimologinya, beiau menjelaskan bahwa kitab-kitab yang di dalamnya terdapat berita-berita yang berasal dari Rasulullah Saw didalaamnya terkandung bebrapa kitab seperti; Tafsir, Sejarah dan peperangan, dan diantaranya terdapat hadis, sehingga hadis adalah segala sesuatu yang diucapkan atau disampaikan pasca di utusnya Muhammad Saw sebagai Rasul meskipun di dalamnya terdapat beberapa hal yang secara historis terjadi sebelum masa ke-Nabi-an.
Sunnah menurut Pendefenisian Ushuliyyin (ulama ushul fiqhi) adalah segala yang disandarkan kepada Nabi Saw selain al-Qur’an, baik dari segi perkataan, perbiatan, atau pun taqrir yang dapat dijadikan sebagai dalil atas sebuah hukum syari’at.
Sementra menurut Fuqaha’ bahwa Sunnah adalah; Segala yang bersumber dari Nabi SAW yang tidak berhubungan dengan hal-hal yang bersifat frdhu atau pun wajib.
Perbedaan pendefinisian ini disebabkan karena perbedaan metodologis dimana Muhaddisin di dalam penelitiannya memposisikan Rasulullah SAW sebagai Imam tertinggi, pemberi jalan menuju kepada hidayah, pemberi nasehat sebagaimana berita yang disampaikan Allah SWT bahwa Rasulullah SAW merupakan uswah dan qudwah bagi kaum muslimin, sehingga para Muhaddisin mengambil seluruh yang bersumber dari Nabi SAW baik dari masalah sirah (perjalanan hidup), Akhlaq, kecenderungan, berita-berita, perkataan, dan perbuatan beliau Saw tanpa melihat apakah yang nuqil tersebut memiliki kandungan hukum syari’at atau pun tidak.

Adapun Ushuliyyin memposisikan Nabi Saw sebagai Musyarri’ yang menjelaskan kepada manusia tentang pranata sosial, dan sebagai peletak kaidah-kaidah dasar untuk para Mujtahidin setelah beliau, oleh karena itu mereka melihat sunnah hanya sebatas apa yang datang dari Nabi Saw dinatar tiga kategori utama yang dapat dijadikan sebagai landasan hukum syari’at.

Sementara para Fuqaha memposisikan Nabi SAW sebagai manusia yang menjalankan hukum Allah Swt, sehingga mereka mereka melakukan penelitian terhadap hukum-hukum syri’at yang berhubungan dengan pekerjaan hamba baik yang bersifat wajib atau haram, atau mubah dan lainnya.
Dari ketiga pandangan di atas T.M Hasbi tergolong pada bagian yang kedua dan beliau lebih memilih untuk mendefenisikan Sunnah sebagaimana pendefenisian Ushuliyyin (para ahli ushul fiqh).
Selain itu T.M Hasbi secara tegas membedakan antara istilah Sunnah dengan Hadis dimana beliau memandang bahwa hadis adalah segala peristiwa yang disandarkan kepada Nabi SAW, walaupun peristiwa itu terjadi hanya sekali saja disepanjang hayat beliau, adapaun Sunnah adalah perbuatan Nabi SAW yang mutawatir, khususnya dari segi makna, namun jika dari segi penuqilan matan/lafalnya tidak mutawatir namun pelaksanaannya mutawatir, maka tetap dinamakan sunnah. Meskipun demikian beliau memandang bahwa kaum muslimin wajib untuk mengamalkan hadis dan sunnah dan menjadikannya pedoman pada setiap zaman dan tempat, sebab tidak dibenarkan sama sekali menyalahi hukum dan perintah Nabi SAW selama hadis tersebut adalah shahih dan tidak bertentangan dengan petunjuk al-Qur’an.
Memperhatikan pandangan T.M Hasbi di atas tentang Sunnah dan hadis, maka dapat dikatakan bahwa beliau menitik beratkan Sunnah pada wilayah amaliyah Nabi SAW baik yang mutawatir secara lafal, makna, maupun pelaksanaannya. Hal ini sejalan dengan pandangan para Fuqaha’ yang memposisikan Nabi Saw sebagai manusia yang menjalankan hukum Allah Swt. Namun pada wilayah pendefenisian saja T.M Hasbi memilih untuk berada pada sisi Ushuliyyin yaitu melihat sunnah dari segi Madlul al-Hukmy (petunjuk hukum). Namun ketika beliau menjelaskan tentang kata hadis, maka beliau cenderung menggunkana pendefenisian hadis menurut peristilahan para Muhaddisin yang secara lahir sejalan dengan pendefenisian mereka terhadap kata Sunnah.
Analisis ini menunjukkan bahwa T.M Hasbi cenderung menggabungkan seluruh bentuk peristilahan atau defenisi etimologi dari kedua istilah tersebut (Sunnah dan Hadis), yang membedakan diatara keduanya adalah kalimat pengikat dari kedua kata, dimana T.M Hasbi menyebutkan istilah Sunnah Mutawatir baik dari lafal, makna mau pun pengamalan, dan menyebutkan istilah hadis dengan hadis shahih. Dimana keduanya wajib diamalkan oleh seluruh kaum muslimin kapan pun dan dimana pun mereka berada.
Adapun dalam istilah ulumul hadis atau ushulul hadis T.M Hasbi lebih memilih untuk menggunakan istilah Ilmu Dirayah Hadis dengan alasan bahwa penggunaan istilah Mushthalahul hadis untuk segenap macam Ilmu Dirayah adalah merupakan suatu tajawuz, oleh karena itu beliau menggunakan istilah ilmu dirayah untuk seluruh macam ilmu hadis, sengan mengasusmsikan bahwa Ilmu Dirayah sama dengan Ulumul Hadis atau Ushulul Hadis.


Metodologi Pengkajian T.M Hasbi terhadap Hadis dan Ulumnya
Metodologi pengkajian ulumul hadis – dalam istilah T.M Hasbi Ilmu Dirayah Hadis- yang dilakukan oleh T.M Hasbi dapat dikatakan menggunakan metodologi pengkajian yang bersifat komprehensif dimana dalam karya-karyanya T.M Hasbi senantiasa mendahulukan defenisi dengan mengungkapkan seluruh bentuk defenisi para tokoh, dan biasanya defenisi-defenisi yang diungkapkan biasanya singkat hal tersebut dapat terlihat pada karyanya yang berjudul Pokok-pokok Ilmu Dirayah Hadits. Namun jika terdapat permasalahan yang sifatnya dipertentangkan, maka beliau senantiasa berusaha menggunakan pendekatan kemperatif untuk menentukan sebuah kesimpulan yang tidak bertentangan dengan pemahaman para ulama salaf.
Adapun dalam masalah hadis T.M Hasbi mengunakan metodologi tahlili, maudhu’i dan muqaran. Dimana dalam pengkajian hadis beliau mengungkapkan judul kemudian memberikan penjelasan singkat berdasarkan pemehaman beliau terhadap hadis tersebut, setelah itu beliau mengungkapkan pendapat para tokoh terhadap hadis tersebut, lalau menghubungkannya dengan dengan hadis-hadis yang lain, jika hadis tersebut hubungannya dengan masalah aqidah dan akhlak beliau berusaha untuk tidak mengungkapkan pendapat-pendapat yang mengandung pertantangan di dalamnya, namun jika hadis tersebut berhubungan dengan fiqhi, maka beliau mengungkapkan seluruh pendapat para fuqaha’ untuk mengambil sebuah kesimpulan yang bersifat kontekstual.


Sumber:

http://mubhar.wordpress.com/2009/01/10/kontribusi-tm-hasbi-ash-shiddiqy-dalam-kajian-hadis-di-indonesia/

 

You are here: Home Tokoh & Pemikirannya Teungku Muhammad Hasbi ash Shiddiqi (1904-1975)
Green Blue Orange Back to Top