BANDA ACEH – Untuk kesinambungan pembangunan dan peningkatan kualitas sumber daya insani, Aceh butuh generasi muda, terutama mahasiswa-mahasiswa yang cerdas dan inovatif sebagai agent of change (agen perubahan). Tapi bukan sosok radikal yang menginginkan serta mengupayakan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara-cara kekerasan.

Hal itu disampaikan Koordinator Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah XIII Aceh, Prof Dr Jamaluddin Idris MEd saat bertindak atas nama Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) membuka Seminar Nasional Merajut Kebangsaan, Menangkal Radikalisme di Perguruan Tinggi yang dilaksanakan, Sabtu (4/11) di Auditorium KH Achmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Aceh (Unmuha).

Prof Jamaluddin membuka acara yang dihadiri 200 peserta itu dengan menabuh rapa-i. Saat itu ia didampingi Prof Dr I Nengah Dasi Astawa MSi selaku Koordinator Kopertis Wilayah VIII Bali, NTB, dan NTT serta Sekretaris Pelaksana Kopertis Wilayah XIII Aceh, Drs Zulkarnain MSc.

Seminar nasional itu dihadiri wakil-wakil PTS se-Aceh, terutama yang berada di Banda Aceh dan Aceh Besar. Sedangkan narasumbernya hampir semua guru besar, yakni Prof Dr I Nengah Dasi Astawa MSi dari Bali, Prof Dr Irfan Idris MA (Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Pemberantasan Terorisme RI), Prof Dr Ir Abdul Halim Halim MSc (Guru Besar Institut Teknologi Bandung), Mayjen TNI Moh Fachruddin SSos (Pangdam Iskandar Muda), Prof Dr Farid Wajdi Ibrahim MA (Rektor UIN Ar-Raniry), dan Prof Dr Apridar MSi (Rektor Universitas Malikussaleh, Aceh Utara).

Prof Jamaluddin menyebut banyak kampus di Indonesia yang mahasiswanya terpapar paham radikalisme, tak terkecuali di Aceh. “Dibutuhkan peran serius pimpinan perguruan tinggi, dosen, dan organisasi kemahasiswaan untuk menangkal paham radikalismebahkan terorisme di kalangan mahasiswa,” katanya.

Ia ingatkan para pimpinan dan dosen PTS di Aceh untuk mewaspadai setiap perubahan perilaku dan intelektualisme  mahasiswa yang tidak sesuai dengan sistem akademis dan komitmen kebangsaan. “Jangan sampai kita lalai dan baru menyesal saat radikalisme dan terorisme sudah bercokol di kampus-kampus kita,” kata Jamaluddin.

Ia berharap, ratusan ribu mahasiswa di lingkungan PTS Aceh mewaspadai bahaya radikalisme dan terorisme, bahkan narkoba. Ia berharap, mudah-mudahan generasi Aceh menjadi generasi brilian, taat, dan inovatif sebagai agent of change, tapi tidak radikal.

Prof Jamaluddin juga menghendaki agar PTN dan PTS di Aceh tidak saling bersaing, tapi justru saling bersanding untuk mencerdaskan anak bangsa.(dik) 

(Sumber: http://aceh.tribunnews.com/2017/11/04/aceh-butuh-generasi-muda-cerdas-tapi-tidak-radikal)