Akademisi Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Aceh (Unmuha) yang juga koordinator psikososial MDMC PW Muhammadiyah Aceh, Hanna Amalia, M.Psi., Psikolog, menekankan bahwa aspek psikologis keluarga memegang peran krusial dalam menjamin keamanan dan perlindungan anak di tengah kondisi trauma pascabencana.
Ia menyatakan bahwa perempuan memiliki posisi strategis dalam membangun benteng pertahanan mental keluarga. Menurut Hanna, perempuan berperan besar dalam mengedukasi anggota keluarga mengenai kesiapsiagaan serta pemulihan psikologis. Peran ini menjadi fondasi agar anak-anak tetap tenang dan merasa aman meski berada dalam situasi darurat.
“Tekanan psikologis pascabencana adalah tantangan nyata yang dapat memengaruhi perkembangan mental anak jika tidak ditangani dengan tepat. Oleh karena itu, pendekatan dalam keluarga dan dukungan sosial harus diperkuat,” ungkap Hanna.
Trauma akibat bencana tidak hanya terjadi sesaat, tetapi dapat berdampak jangka panjang pada perkembangan psikis anak. Hanna menjelaskan beberapa kunci utama dalam memberikan perlindungan emosional bagi anak:
* Membangun komunikasi yang terbuka: Mendengarkan kekhawatiran anak.
* Memberikan rasa aman: Kehadiran orang tua secara fisik dan emosional.
* Dukungan emosional yang konsisten: Memvalidasi perasaan takut anak sebagai hal yang wajar.
Tidak hanya fokus pada pemulihan, Hanna juga mendorong keluarga untuk melakukan langkah preventif demi menciptakan keluarga yang resilien (tangguh) secara psikologis, di antaranya:
* Latihan Evakuasi Mandiri: Melakukan simulasi bencana bersama keluarga.
* Perencanaan Darurat: Menentukan titik temu dan tas siaga bencana.
* Penguatan Mental Orang Tua: Orang tua harus stabil secara emosional agar dapat menjadi teladan dan penenang bagi anak.
Selain faktor internal keluarga, kolaborasi dengan lembaga sosial dan komunitas sangat diperlukan. Program pendidikan “Anak Tangguh” di sekolah serta bantuan sosial yang tepat sasaran menjadi bagian integral dari perlindungan anak secara menyeluruh.
“Sinergi antara keluarga, sekolah, dan lembaga sosial akan menciptakan ekosistem yang mendukung percepatan pemulihan mental para penyintas, terutama anak-anak,” tutupnya. (Humas)

