Inovasi EcoBrick Mahasiswa FKM Unmuha dengan Mengubah Sampah Plastik Aceh Menjadi Peluang Ekonomi

Di tengah besarnnya ancaman krisis sampah plastik nasional yang kian mengkhawatirkan, Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Muhammadiyah Aceh (Unmuha) msnawarkan sebuah langkah nyata berbasis sains aplikatif lahir dari dunia akademik Aceh.

Guna menekan angka timbulan sampah plastik yang kini mencapai hampir seperlima dari 68,5 juta ton sampah nasional per tahun, program inovasi EcoBrick berbasis campuran plastik dan pasir hadir sebagai solusi material konstruksi masa depan yang ramah lingkungan sekaligus bernilai guna tinggi.

Urgensi ini terasa nyata setelah melihat pencemaran yang terjadj kasat mata di sepanjang bantaran Sungai Aceh, pesisir Pantai Ulee Lheue, hingga penyumbatan drainase perkotaan, untuk menjawab tantangan tersebut, FKM Unmuha mencoba untuk mengubah krisis ekologis menjadi peluang ekonomi sirkular.

​Inovasi bata plastik-pasir ini bukan sekadar wacana teoretis, melainkan sebuah terobosan yang telah melewati serangkaian uji laboratorium yang valid. Penelitian dari Politeknik Aceh Selatan (2019) membuktikan bahwa bata berbasis limbah plastik lokal mampu menghasilkan kuat tekan hingga 141,42 kg/cm², menjadikannya sangat layak untuk kebutuhan konstruksi ringan hingga menengah.

Studi teknik global pada tahun 2021 menunjukkan bahwa optimalisasi bata plastik-pasir dapat mencapai kuat tekan hingga 70 MPa. Angka ini menandingi, bahkan melampaui kekuatan beton konvensional dengan bobot yang jauh lebih ringan, sehingga berpotensi meningkatkan ketahanan bangunan terhadap guncangan gempa, sebuah aspek krusial bagi geografis Aceh.

Kajian ilmiah tahun 2022 menegaskan bahwa substitusi material ini efektif menekan emisi karbon secara signifikan jika dibandingkan dengan proses produksi bata konvensional yang padat energi. ​Keunggulan utama dari teknologi ini terletak pada formulasinya yang membumi dan dapat direplikasi oleh masyarakat luas.

Melalui mata kuliah Pengolahan Limbah (Domestik, B3, dan Non-B3), Dr. Tahara Dilla Santi, S.Pd., M.Biomed bersama tim mahasiswa yang terdiri dari Nasyata Safira, M.Hazik, Elfia Elita, Nia Rahmadani, Zada Alzena, Saiful Azahar, dan Harith Aqhari, berhasil menyusun langkah produksi EcoBrick yang efisien.

Adapun penyusunan ini dengan memanfaatkan limbah plastik rumah tangga jenis High-Density Polyethylene (HDPE), Low-Density Polyethylene (LDPE), atau Polypropylene (PP) seperti botol bekas, wadah makanan, dan kantong belanja.

Plastik yang telah dicacah dipanaskan pada suhu terkontrol 150°C hingga 250°C menggunakan tungku sederhana dan meleburkan pasir bersih ke dalam likuid plastik dengan variasi komposisi rasio mulai dari 30 persen plastik dan 70 persen pasir hingga komposisi seimbang 50:50.

Adonan panas dituang ke dalam cetakan, dipadatkan guna mengeliminasi rongga udara (porositas), lalu didinginkan secara alami hingga mengeras sempurna. ​Teknologi yang inklusif ini membuka peluang besar bagi pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas, mulai dari kelompok ibu rumah tangga, karang taruna, hingga Unit Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

“Aceh memiliki modalitas yang sangat lengkap: cadangan pasir yang melimpah, suplai bahan baku limbah yang kontinu, serta kesiapan riset dari para peneliti lokal. Yang kita butuhkan sekarang adalah integrasi sistemik agar inovasi ini tidak berjalan parsial,” ujar Dr. Tahara Dilla Santi dalam keterangannya.

Untuk mewujudkan ekosistem tersebut, diperlukan sinergi multipihak ptimalisasi peran Bank Sampah sebagai pusat pengumpulan dan sortasi bahan baku, operasi masyarakat difasilitasi sebagai unit produksi massal serta pemanfaatan hasil produksi EcoBrick untuk proyek infrastruktur komunitas, seperti pagar fasilitas umum, dinding rumah ibadah, hingga fasilitas publik desa.

Secara akademik, inovasi ini tetap mengedepankan aspek transparansi dan keselamatan. Bata plastik-pasir saat ini masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan terhadap paparan suhu tinggi (termal) serta belum adanya kodifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) yang baku untuk adopsi proyek skala besar.

​Selain itu, aspek keselamatan kerja menjadi prioritas utama dalam proses produksi. Proses pelelehan wajib dilakukan di ruang dengan ventilasi yang memadai. Sortasi harus dilakukan secara ketat untuk menghindari plastik jenis PVC (Polyvinyl Chloride), karena jenis tersebut melepaskan gas beracun (toksik) yang berbahaya bagi kesehatan saat dipanaskan.

Tantangan teknis dan regulasi ini merupakan peluang besar bagi pemerintah daerah dan perguruan tinggi lokal untuk melahirkan kebijakan yang berpihak pada inovasi hijau, baik melalui pemberian insentif usaha, regulasi pembatasan plastik sekali pakai, maupun dukungan dana riset lanjutan.

“Sudah saatnya Aceh tidak sekadar menjadi penonton di tengah krisis ekologi, melainkan penggerak utama dalam solusi lingkungan berkelanjutan,” pungkas Dr. Tahara. (Humas)