Akademisi Unmuha Soroti Dampak Bahaya Karhutla Terhadap Kesehatan Masyarakat

Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang terjadi secara periodik di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, merupakan ancaman masyarakat dalam berbagai bidang. Keberulangan krisis ekologis ini setiap tahun memperkompleks dampaknya, terutama terhadap kesehatan sistem pernapasan populasi terdampak.

​Akademisi Universitas Muhammadiyah Aceh (Unmuha), Dr. Basri Aramico IB., S.K.M., M.P.H., menyatakan bahwa Karhutla yang meluas hingga membakar ratusan ribu hektar lahan telah menurunkan kualitas udara ke tingkat yang sangat berbahaya.

Oleh karena itu, diperlukan respons ilmiah dan holistik berbasis kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy) untuk menanggulangi dampak multidimensional dari fenomena ini.

Secara epidemiologis, pajanan partikulat halus, khususnya PM_{2,5} yang terkandung dalam asap Karhutla, merupakan determinan utama peningkatan manifestasi klinis gangguan pernapasan. Kondisi ini mencakup Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), pneumonia, serta eksaserbasi akut pada penderita asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).

​Di beberapa wilayah, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dilaporkan melebihi angka 500, jauh melampaui ambang batas berbahaya yang berada pada tingkatan 300. Penurunan kualitas udara ini berkorelasi langsung dengan pemburukan derajat kesehatan masyarakat. Selain itu dampaknya juga sudah di rasakan hingga negara tetangga.

“Berbagai kajian toksikologi mengonfirmasi bahwa partikel mikroskopis PM_{2,5} mampu menembus membran alveolus paru hingga memasuki sirkulasi darah sistemik. Mekanisme ini berpotensi memicu inflamasi vaskular dan meningkatkan risiko kelainan kardiovaskular dalam jangka panjang,” kata Basri Aramico yang juga dekan FKM Unmuha pada Selasa, 13 Oktober 2026.

Pada kesempatan itu, ia juga mengatakan bahwa dampak Karhutla tidak hanya terbatas pada dimensi fisiologis, tetapi juga berimplikasi pada aspek psikologis. Fenomena solastalgia distres mental akibat kerusakan lingkungan tempat tinggal serta depresi laten akibat penurunan kualitas hidup dan pembatasan aktivitas luar ruangan menjadi ancaman nyata bagi populasi rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, dan ibu hamil.

Sebagai kontribusi akademis terhadap mitigasi krisis, Dr. Basri merekomendasikan empat langkah seperti mengintegrasikan data kualitas udara (ISPU) secara real-time dengan sistem pencatatan medis di fasilitas kesehatan primer (Puskesmas) untuk mendeteksi dini lonjakan kasus penyakit respiratori.

Mengupayakan distribusi masker berstandar filtrasi tinggi (seperti N95/KN95) bagi populasi rentan dan pekerja lapangan, mengingat masker kain atau masker bedah standar tidak efektif menyaring partikel PM_{2,5}, ruang publik berpendingin yang dilengkapi sistem pemurni udara berfilter HEPA di fasilitas umum sebagai zona evakuasi darurat respiratori.

Pada kesempatan itu juga, ia juga mengajak semua pihak baik pemerintah dan masyarakat serta memperkuat kolaborasi lintas disiplin ilmu untuk merumuskan upaya pencegahan Karhutla secara komprehensif mengurangi dampak yang diakibatkan akibat bencana Kabut Asap. (Humas)