Dosen Fakultas Teknik sekaligus Ketua Program Studi Magister Rekayasa Sipil Universitas Muhammadiyah Aceh (Unmuha), Firmansyah, Ph.D., diundang sebagai dosen tamu di Department of Civil Engineering, Universiti Malaya (UM), Malaysia.

Dalam kegiatan yang berlangsung pada Senin (17/11/2025) ini, Firmansyah memberikan kuliah pada mata kuliah Pavement Engineering di hadapan mahasiswa Bachelor Degree of Civil Engineering (Sarjana Teknik Sipil) UM.

Topik utama yang diangkat adalah isu krusial dalam infrastruktur jalan, yakni “Aging of Bitumen” atau penuaan aspal. Dalam paparan materinya, Firmansyah menekankan bahwa aspal merupakan salah satu material yang paling banyak didaur ulang di dunia setelah air.

Namun, tantangan terbesar dalam penggunaan kembali aspal (seperti Reclaimed Asphalt Pavement atau RAP) adalah fenomena penuaan yang menyebabkan aspal menjadi kaku dan getas “Penuaan aspal terjadi karena reaksi oksidasi dengan oksigen di atmosfer serta penguapan komponen minyak (volatile) dalam bitumen.

Hal ini mengubah komposisi kimia aspal, di mana rasio maltene menurun dan asphaltene meningkat, yang berdampak pada penurunan durabilitas jalan,” jelas Firmansyah.

Firmansyah, yang menamatkan gelar Ph.D. di National Cheng Kung University (NCKU) dengan fokus riset pada material perkerasan berkelanjutan, juga memaparkan solusi inovatif untuk mengatasi masalah ini. Ia memperkenalkan konsep penggunaan bio-based rejuvenating agents atau bahan peremaja berbasis nabati.

“Riset terkini menunjukkan bahwa bahan-bahan non-minyak bumi seperti limbah minyak goreng (waste cooking oil), limbah berbasis kayu (wood-based), hingga mikro-alga dapat digunakan sebagai rejuvenator. Bahan-bahan ini tidak hanya melunakkan aspal yang sudah tua, tetapi juga merestorasi sifat fisik dan kimianya,” tambahnya.

Materi yang disampaikan mencakup tinjauan riset selama satu dekade di Asia, termasuk studi kasus penggunaan limbah minyak goreng di China dan Malaysia, serta penggunaan lignin di Iran dan Taiwan sebagai modifikator aspal yang lebih ramah lingkungan.

Kehadiran Firmansyah di Universiti Malaya ini tidak hanya menunjukkan kepakaran dosen Unmuha di level internasional, tetapi juga memperkuat kolaborasi akademik antara Indonesia dan Malaysia dalam pengembangan teknologi infrastruktur berkelanjutan.

Dalam kesempatan tersebut, Firmansyah juga memperkenalkan profil Universitas Muhammadiyah Aceh (Unmuha) yang memiliki 6 fakultas, termasuk Fakultas Teknik, yang terus berkomitmen pada pendidikan berkualitas dan riset yang berdampak global. (Humas)